Rahasia untuk membuat kulit artifisial mungkin terletak pada sutra laba-laba. Benang yang dipintal oleh binatang itu diketahui sebagai material alami terkuat di dunia. Sejak 2.000 tahun lampau, jala laba-laba juga telah digunakan untuk mencegah infeksi, menghentikan perdarahan, menyembuhkan luka, dan berfungsi sebagai ligamen artifisial.
Kini sejumlah ilmuwan Jerman mencoba membuat kulit buatan dari sutra laba-laba tersebut. Transplantasi kulit sangat vital dalam mengobati korban luka bakar ataupun pasien yang memiliki luka kronis, seperti lecet akibat terus-menerus berbaring. Di Amerika Serikat, jumlah pasien yang mengalami luka semacam itu mencapai 6,5 juta orang dan menelan biaya US$ 25 miliar per tahun.
Sebagai pengganti kulit cangkok, yang biasanya diambil dari bagian tubuh pasien, peneliti Jerman meneliti penggunaan kulit buatan. Idealnya kulit cangkok terbuat dari bahan yang dapat diterima tubuh, dan dapat menjadi media tumbuh sel kulit untuk menggantikan jaringan yang hilang, serta dapat terurai ketika kulit baru tumbuh. Kulit buatan tersebut juga harus kuat.
"Berbagai bahan yang diteliti selama ini tidak cukup kuat menghadapi semua tugas itu," kata ahli rekayasa Hanna Wendt di Medical School Hannover di Jerman.
Kekuatan dan kelenturan sutra laba-laba, kata Wendt, adalah faktor penting untuk mentransfer berbagai jenis implan, dan mudah ditangani. Berbeda dengan sutra dari ulat sutra, benang laba-laba tidak memicu reaksi penolakan tubuh.
Wendt dan timnya telah memerah sutra laba-laba pemintal jaring raksasa dari genus Nephila, yang dipintal dan diambil langsung dari kelenjar sutranya. Mereka menjalin jala dari sutra itu pada sebuah bingkai baja.
Sel kulit manusia yang ditaruh pada cetakan itu tumbuh subur, dipasok dengan nutrisi, kehangatan, dan udara yang cukup. Mereka mampu menumbuhkan dua jenis sel kulit, keratinosit dan fibroblast, menjadi pola mirip jaringan yang menyerupai epidermis, bagian terluar kulit, dan dermis, lapisan jaringan hidup yang mengandung pembuluh darah, l LIVESCIENCE
Rahasia untuk membuat kulit artifisial mungkin terletak pada sutra laba-laba. Benang yang dipintal oleh binatang itu diketahui sebagai material alami terkuat di dunia. Sejak 2.000 tahun lampau, jala laba-laba juga telah digunakan untuk mencegah infeksi, menghentikan perdarahan, menyembuhkan luka, dan berfungsi sebagai ligamen artifisial.
Kini sejumlah ilmuwan Jerman mencoba membuat kulit buatan dari sutra laba-laba tersebut. Transplantasi kulit sangat vital dalam mengobati korban luka bakar ataupun pasien yang memiliki luka kronis, seperti lecet akibat terus-menerus berbaring. Di Amerika Serikat, jumlah pasien yang mengalami luka semacam itu mencapai 6,5 juta orang dan menelan biaya US$ 25 miliar per tahun.
Sebagai pengganti kulit cangkok, yang biasanya diambil dari bagian tubuh pasien, peneliti Jerman meneliti penggunaan kulit buatan. Idealnya kulit cangkok terbuat dari bahan yang dapat diterima tubuh, dan dapat menjadi media tumbuh sel kulit untuk menggantikan jaringan yang hilang, serta dapat terurai ketika kulit baru tumbuh. Kulit buatan tersebut juga harus kuat.
"Berbagai bahan yang diteliti selama ini tidak cukup kuat menghadapi semua tugas itu," kata ahli rekayasa Hanna Wendt di Medical School Hannover di Jerman.
Kekuatan dan kelenturan sutra laba-laba, kata Wendt, adalah faktor penting untuk mentransfer berbagai jenis implan, dan mudah ditangani. Berbeda dengan sutra dari ulat sutra, benang laba-laba tidak memicu reaksi penolakan tubuh.
Wendt dan timnya telah memerah sutra laba-laba pemintal jaring raksasa dari genus Nephila, yang dipintal dan diambil langsung dari kelenjar sutranya. Mereka menjalin jala dari sutra itu pada sebuah bingkai baja.
Sel kulit manusia yang ditaruh pada cetakan itu tumbuh subur, dipasok dengan nutrisi, kehangatan, dan udara yang cukup. Mereka mampu menumbuhkan dua jenis sel kulit, keratinosit dan fibroblast, menjadi pola mirip jaringan yang menyerupai epidermis, bagian terluar kulit, dan dermis, lapisan jaringan hidup yang mengandung pembuluh darah, l LIVESCIENCE
Rahasia untuk membuat kulit artifisial mungkin terletak pada sutra laba-laba. Benang yang dipintal oleh binatang itu diketahui sebagai material alami terkuat di dunia. Sejak 2.000 tahun lampau, jala laba-laba juga telah digunakan untuk mencegah infeksi, menghentikan perdarahan, menyembuhkan luka, dan berfungsi sebagai ligamen artifisial.
Kini sejumlah ilmuwan Jerman mencoba membuat kulit buatan dari sutra laba-laba tersebut. Transplantasi kulit sangat vital dalam mengobati korban luka bakar ataupun pasien yang memiliki luka kronis, seperti lecet akibat terus-menerus berbaring. Di Amerika Serikat, jumlah pasien yang mengalami luka semacam itu mencapai 6,5 juta orang dan menelan biaya US$ 25 miliar per tahun.
Sebagai pengganti kulit cangkok, yang biasanya diambil dari bagian tubuh pasien, peneliti Jerman meneliti penggunaan kulit buatan. Idealnya kulit cangkok terbuat dari bahan yang dapat diterima tubuh, dan dapat menjadi media tumbuh sel kulit untuk menggantikan jaringan yang hilang, serta dapat terurai ketika kulit baru tumbuh. Kulit buatan tersebut juga harus kuat.
"Berbagai bahan yang diteliti selama ini tidak cukup kuat menghadapi semua tugas itu," kata ahli rekayasa Hanna Wendt di Medical School Hannover di Jerman.
Kekuatan dan kelenturan sutra laba-laba, kata Wendt, adalah faktor penting untuk mentransfer berbagai jenis implan, dan mudah ditangani. Berbeda dengan sutra dari ulat sutra, benang laba-laba tidak memicu reaksi penolakan tubuh.
Wendt dan timnya telah memerah sutra laba-laba pemintal jaring raksasa dari genus Nephila, yang dipintal dan diambil langsung dari kelenjar sutranya. Mereka menjalin jala dari sutra itu pada sebuah bingkai baja.
Sel kulit manusia yang ditaruh pada cetakan itu tumbuh subur, dipasok dengan nutrisi, kehangatan, dan udara yang cukup. Mereka mampu menumbuhkan dua jenis sel kulit, keratinosit dan fibroblast, menjadi pola mirip jaringan yang menyerupai epidermis, bagian terluar kulit, dan dermis, lapisan jaringan hidup yang mengandung pembuluh darah.
EmoticonEmoticon